Unexpected Story


Beberapa waktu lalu, aku tiba-tiba bertemu seseorang, tepatnya dia sih yang menemukanku. Sebuah pertemuan semu layaknya fenomena add and confirm di salah satu platform social media. Seusai prosesi perkenalan pada umumnya, dapat kusimpulkan dia pribadi yang sederhana dan ramah. Aku sedikit penasaran dengan sosoknya, sampai aku mengecek seluruh profil dan fotonya. Tidak ada yang aneh, semua normal. Jadi kuputuskan untuk memberinya kesempatan untuk menjadikannya kenalan jauh dengan segala potensi positif di kemudian hari. Oh, maksudku, mungkin kami bisa kenal lebih dekat, begitu.

Awalnya, aku bertindak seperti perempuan pada umumnya yang malu-malu kucing. Tapi malu-malu kucing versiku karena aku agak canggung dengan perkenalan, apalagi tanpa tatap muka seperti ini. Biasanya aku hanya seadanya saja kalau memang ingin berkenalan. Sebab di benakku, aku takut jika salah satu diantara kami meletakkan ekspektasi tinggi yang kemudian malah menyesalinya. Atau bahasa kasarnya saat itu aku hanya mencoba menghargai segala keramah-tamahannya yang ditujukkan padaku. Silakan caci aku jika menurutmu ini lebay. Haha.

Jalan cerita kali ini sedikit diluar dugaanku, sebab tak butuh waktu lama, komunikasi kami agak sedikit istimewa. Oh, tidak. Aku sama sekali belum memberinya lampu hijau untuk masuk jauh ke dalam hatiku. Tapi aku juga tidak tahu, mengapa semudah ini kejadiannya? Haha. Sebagian dari diriku memberikan kepercayaan secara percuma padanya. Hampir tiap malam kami on the phone call. Tapi aku sama sekali belum pernah memulai percakapan jika bukan dia yang memulainya. Oh, anggap aku sedang memainkan peran perempuan yang selalu ingin dicari.

Ah, siapa sih yang tidak ingin dicari? Bahkan kaum Adam pun ingin merasa diperhatikan, kan? Well, ini adalah salah satu sifatnya. Selama ini aku belum pernah menemui lelaki yang benar-benar ingin diperhatikan meski status hanya sebatas teman. Umumnya mereka yang memberikan perhatian extra saat ingin PDKT-an dengan perempuan, kan? Aku semakin canggung, tapi aku tak ingin melewatinya sia-sia, aku pikir akan ada kesempatan yang menguntungkan.

Setiap kali aku tidak memulai percakapan, dia akan mengaktifkan mode badmood. Ya, selalu. Bahkan di penghujung percakapan, selalu berakhir dengan debat-debat tak penting. Lalu aku yang harus mencari tahu bagaimana agar dia tidak badmood lagi. Ah sepenting itukah dia bagiku? Tapi seringnya dia membaik dengan sendirinya. Dan aku merasa bersalah. Tapi untuk apa?

Saat itu bagiku tak ada hal menarik selain menunggu waktu pukul 8.00 malam untuk dapat mendengar suaranya. Suaranya standar laki-laki dong. Cuma buka tipe suara favoritku, suaranya tidak berat, dan serak, dan ngebass, dan suaranya sama sekali bukan seperti Mark. Tapi aku suka. Aku mampu mengobrol dengannya berjam-jam, sampai aku merasakan mataku berat, dan aku tertidur pulas, dan memimpikannya. Haha. Tidak, tidak. Aku hanya suka suaranya.

Tapi dari suara, kita bisa jatuh hati loh. Hal ini berlaku sama ketika aku rela menunggu jam siaran radio favoritku jaman sekolahan. Ya, tidak ada yang salah baca disini, aku sudah lama menekuni hobi menjadi pendengar radio, aku merasa lebih update kalau buka radio. Eh, kok malah ngebahas radio sih?

Setelah komunikasi yang tidak cukup intens antara aku dan dia, aku akui, aku cukup nyaman. Meski statusnya bagi orang lain adalah orang asing, atau orang tidak dikenal, sebab berkenalan di dunia maya memiliki resiko yang cukup berat untuk dengan mudah melabelinya “teman dekat”. Tapi dia baik, pikirku. Jadi, kenapa tidak?

Bukan lelaki namanya kalau tidak bermodalkan gombalan. Dia pun cukup lihai dalam hal yang satu ini. Tapi untungnya aku cukup kebal. Bukan kebal sih sepertinya udah mati rasa, duh. Selama bertahun menyandang status jomblo, dan sudah terlanjur nyaman, wajar sih kalau agak linglung jika harus berdepan dengan situasi seperti itu. Haha. Parahnya, karena terlalu enjoy, sampai-sampai tidak mampu menerjemahkan kode alam darinya yang berusaha menyentuh hati. Aduh, bagaimana ini?

Siapa yang tidak terkejut, jika tiba-tiba seseorang yang baru dikenal dengan segenap keyakinannya menyatakan cinta dengan kita yang sudah terlalu lama pensiun soal asmara? Aku harus apa? Sebagian kecil dariku ingin juga merasa dimiliki, namun sebagian lainnya bersikeras untuk tidak menjalani hal yang seharusnya tidak secepat itu. Urusan hati bagiku bukan hal yang mudah. Memang jauh di lubuk terdalam, aku menyimpan nama seseorang, dan sudah cukup lama. Nama tersebut masih berkedip layaknya lampu tumblr setiap kali ia muncul dalam notifikasiku ponsel pintarku.

Aku berusaha jujur padanya bahwa aku masih syok dengan pernyataannya. Aku tak bisa menerima lebih sementara aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku inginkan dan apa yang bisa kuberikan untuk membalasnya. Sebuah perasaan? Ah, perasaan yang seperti apa? Perasaan ingin saling memiliki? Terlalu rumit untuk dicerna pikiran dan perasaanku.

“Kamu nyaman kan dengan saya?”, kira-kira begini pertanyaan setelah pernyataannya. “Kenapa kamu mau berusaha nurut tentang apa yang saya larang kalau kamu tidak boleh tidur larut malam. Kamu sayang saya kan?”. Alamak! Belum sempat aku menjawab pertanyaan berat pertama, dia sudah menimpali dengan yang terberat kedua. “Eh, ng.. iya kalau soal nyaman, iya saya nyaman. Tapi kalau yang kedua, saya tidak tahu harus jawab apa?”.

“Mungkin ada baiknya kita jalani dulu saja. Saya pikir ini terlalu cepat untuk disimpulkan kalau ini cinta. Mungkin besok atau lusa ketika memang saatnya tiba, berdua bersama adalah milik kita. Tapi bukan sekarang”, sekuat tenaga aku mencari alasan klise, sungguh klise. Kesan klise yang sama ketika terjadi penolakan dengan alasan, kamu terlalu baik untukku. Tapi aku tidak bermaksud begitu.

Di satu kesempatan, ketika sehari sebelumnya terjadi kesalahpahaman hebat, dia memintaku untuk menelponnya, dia mengatakan akan menjelaskan dan meluruskannya lewat telepon. Karena baginya, menjelaskan melalui pesan singkat sama saja dengan memperkeruh suasana. Baiklah, kuterima permintaannya. Bahkan aku sudah mempersiapkannya dengan matang, kalau-kalau percakapan itu akan memakan waktu lama dari biasanya. Tapi, nihil. Percakapan itu singkat. Sangat singkat, sampai aku tidak ingat apa yang disampaikannya. Yang menempel dipikranku hanya perkataannya mengenai pertanyaan yang berulang-ulang tentang perasaanku terhadapnya.

Lalu perlahan-lahan dia mundur, setelah tragedi klise itu, dan setelah percakapan malam itu. Percakapan kami yang tidak sepanjang dulu. Dia bilang, “Saya tidak akan paksa kamu. Semua terserah kamu. Saya sudah berusaha”. What? Apa tadi dia bilang, berusaha? Dia bilang itu berusaha? Secepat itu? Loh, kok aku kecewa ya? Harusnya kan aku merasa aman, tentram dan sejahtera setelah kemundurannya. Aku merasa ada yang hilang. Suaranya?

Hanya butuh 1 minggu semua kejadian kompleks ini terjadi. Ya, hanya bertahan 1 minggu saja. Coba bayangkan, jika saja saat itu aku membiarkannya masuk terlalu dalam dan membiarkannya mengubah atau menata kembali beberapa bagian hidupku, lalu dia mundur hanya karena satu pintu yang tidak kubukakan untuknya? Apa jadinya jika dia mengobrak-abrik sesisi perasaanku?

Tidakkah aku akan semakin takut untuk mencoba membuka pintu hati itu lagi? Tapi aku berusaha meyakinkannya, bahwa aku telah lama lupa dimana aku menaruh kuncinya. Namun dia belum bisa memahaminya, begitu pikirku. Aku sudah lama tidak mengunjungi ruangan berpintu hati itu, kurasa bahkan sudah sangat berdebu. Ya ruangan yang hanya muat untuk kuisi oleh satu orang yang kuharap datang tak sekedar bertamu, namun untuk tinggal selamanya.

Sekarang, atau tepatnya hari ini. Aku dan dia kembali menjadi orang asing, berkutat dengan kegiatan masing-masing. Dan aku cukup malu untuk mengatakan bahwa aku rindu suaranya. Haha, ya memang benar, tidak ada yang salah baca. Sudah dua hari dengan hari ini, suara itu absen dari telingaku. Suara yang tidak bagus-bagus amat, dan tidak juga sumbang, namun mampu menyalurkan sedikit sensasi diistimewakan sebagai seorang perempuan.

Beberapa kali, kadang aku masih suka mencoba untuk bercakap dengannya meski hanya melalui pesan. Tapi kurasa dia tidak paham. Atau dia benar-benar telah menghilangkan aku dari sebagian kecil kehidupannya. Ya apalah, hanya kenal lewat media social, dan hanya seminggu pula. Harusnya aku memikirkan kemungkinan ini sebelum memberinya kesempatan waktu itu. Aku tertipu ilusi perasaan bahagia, yang membuatku merasa pada akhirnya ada yang ingin menerimaku apa adanya. Ternyata, kenyataannya, diprioritaskan oleh seseorang belum termasuk dalam daftar yang telah Tuhan tuliskan untukku.

Aku harus mencoba dan berusaha lebih karena di Maret 2019 bukan peruntunganku dalam hal bernuansa merah jambu. Mungkin dengan lebih peka terhadap keinginan hati serta bagaimana cara menyikapainya adalah materi bagus yang harus kembali dipelajari di bulan berikutnya. Terima kasih atas kehadiran singkat yang cukup berkesan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[REVIEW] POND'S White Beauty Day and Night Cream

[REVIEW] Citra Sakura UV Powder Cream | Home Tester

[REVIEW] POND'S White Beauty Instabright Tone Up Milk Cream