Letters To Unknown

Dear, you...
Aku tak tahu apakah kau melihatku seperti aku melihatmu. Ketika tiba-tiba dada kiri masing-masing kita berdebar saat kedua manik bulat indah mencapai titik temunya.
Mungkin hanya aku yang merasa, atau malah aku yang terlalu percaya jika kau juga merasainya?
Dan semesta menjawabnya, ternyata ritmemu hanya 4/4, lebih tenang dariku. Bermakna bahwa kita tak seirama.
Begini,
Pertemuan kita singkat, mustahil jika aku menginginkan perasaan yang terikat. Kau meresponku dipertengahan waktu, sementara batasku hanya tinggal beberapa minggu.
Awalnya sikap tenang dan sederhanamu membuat benakku penuh tanya. Dan entah bagaimana kita mulai saling menyapa hingga mulai bercerita. Aku dengan keluh kesahku dan kau dengan petuahmu. Sebenarnya jika kuingat lagi, hanya aku yang mendominasi ruang bicara, dan kau hanya membagi dua, tiga kisah saja.
Namun aku melewati batas. Aku menginginkamu dengan segala lebih dan kurangmu. Mungkin akan terlihat dari cara peduliku, dan dari tatapku yang langsung menuju manikmu. Atau dari caraku meminta perhatianmu. Kesalahanku adalah meletakkan asa tanpa logika. Sebab ketika kutahu bahwa kau adalah tipe yang benci basa-basi. Aku mulai tahu kemana arah ceritamu, dan rasanya aku ingin lari saja.
Untuk saat itu pikirku kutub-kutub magnetik kita saling menarik. Kau dengan rahasia yang kau simpan dan aku, aku tidak tahu, mungkin karena keingintahuanku. Sebab sadarku yang selama ini mengira kutub-kutub magnetik itu saling menarik rupanya salah satunya hanya memaksa untuk ditarik.
Dan kita mulai jauh. Kau dengan duniamu dan aku dengan duniaku yang huru-hara. Tapi aku masih saja berusaha memenangkan hatimu meski tahu harus sia-sia. Dan di detik ini aku menyerah.
Benar katamu, kita tak bisa main-main soal hati. Jika tak diinginkan untuk apa memaksakan.
Karena batasku yang sudah di depan mata, maka biarlah kisah kita kembali seperti sedia kala. Tahu tanpa temu, dan tatap tanpa sapa.
Terima kasih telah mengizinkanku menuliskan kisah dilembaran hidupmu. Kisah yang akan selalu kau pendam sendirian. Maaf jika kisah itu penuh coretan yang tak kau inginkan. Tak apa, kita imbang. Sebab aku juga sudah biasa jatuh cinta sendirian sehingga aku tau rasanya tak diinginkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[REVIEW] POND'S White Beauty Day and Night Cream

[REVIEW] Citra Sakura UV Powder Cream | Home Tester

[REVIEW] POND'S White Beauty Instabright Tone Up Milk Cream