Letters To Unknown (2)

Dear you,
Kuakui aku sanggup diam memendam dalam waktu yang cukup lama. Namun jika begini keadaannya, aku tak bisa.
Aku tau sedari tadi manikmu mencari-cari manikku berharap menyatu dalam tatap. Tapi keadaan tak memberi kesempatan. Kau diam, aku juga. Kau pergi, dan tiba-tiba ada rasa sesal hinggap mengapa tidak kuutarakan saja.
Ya, katakan saja aku rindu.
Biar kuulang sekali lagi, aku rindu. Rindu pada laki-laki yang aku yakini tak akan pernah ada waktu membaca ini.
Jika kau tanyakan, mengapa bisa? Entah, jawabku. Mungkin karena telah lama kita tak bercengkrama tentang hal sederhana seperti biasa.
Begini,
Aku merasa kalau kau seperti sedang membuat jarak. Atau memang aku saja yang berlebihan merasa bersalah atas kejadian lalu. Kejadian saat ternyata aku masuk terlalu jauh kedalam masa lalumu. Sebut saja aku pengganggu, kalau kau mau. Tak masalah bagiku asalkan kita tak larut dalam keadaan yang membisu. Aku juga tak tahu apa benar kau tak menaruh marah padaku, sampai-sampai menyapa saja kau tak mau.
"Saya pusing", begitu katamu. Mempersingkat percakapan kita waktu itu lalu hilang tanpa pemberitahuan. Kudatangi kau berkali-kali dan seketika itu juga kau patahkan asa dan rasaku. Kecewa? Ya, sudah pasti.
Perihal kecewa, kita sudah sama-sama pernah merasakannya meski dengan situasi dan orang yang berbeda. Namun semua kecewa ya sama saja.
Memang jika diukur tahun, aku sadar bahwa kita jauh sekali berkesempatan bersama. Jika diukur rasa, lebih kurang tak jauh berbeda. Mungkin karena kau adalah satu-satunya yang bisa dan mau memahami sisi manjaku, sehingga rasa nyaman itu hadir.
Kau selalu jadi tempatku menuangkan masalah, kau selalu mau merespon cerita tak masuk akalku. Selalu kau. Dan aku mau, kau juga seperti itu padaku. Berbagi cerita saja sudah membuatku bahagia, apalagi jika kita saling berbagi rasa. Aku untukmu dan kau untukku.
Tapi ternyata harapan hanya harapan. Tidak ada celah untuk digariskan pada realita kehidupan.
Sekali lagi aku belajar darimu, tentang siratan ucapanmu kala itu.
Tak semua cinta dapat menemui Tuannya.
Jika tak kau temukan ia di dunia fana, mungkin ia ada di surga. Yang kau perlukan hanya mencintai sang Maha Cinta. Sebab ia tak pernah salah menggariskan kepada siapa seharusnya cinta itu berada. - SS

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[REVIEW] POND'S White Beauty Day and Night Cream

[REVIEW] Citra Sakura UV Powder Cream | Home Tester

[REVIEW] POND'S White Beauty Instabright Tone Up Milk Cream