A Love Untold (6)

Aku berjalan pelan menuju shelter bus dengan gaya sedikit pincang dan dalam kedaaan tanpa alas kaki sebab high heels-ku dibawa oleh Neil. Dan Neil sekarang entah ada dimana. Help me God...

"Gila bener dah bisa aja gitu aku percaya sama dia, dari dulu padahal emang belagaknya sok iya banget ya ampun. Sekarang aku udah ketularan sintingnya dia. Pake baju kantoran udah lecek kotor, nggak pake alas kaki, jalan pincang, perut laper, muka kusut. Hidup semenjak ketemu dia bermasalah aja rasanya, heran banget", ceracauku.

Bukan maksud ingin manja, tapi ini benar-banar nano-nano rasanya, jadi sisi feminine-ku seperti ingin mendominasi sifat mandiriku yang harusnya dibuat kuat. Aku tidak berharap Neil kembali menemuiku sekedar basa-basi mengantarku pulang. Kalau dia memang merasa bersalah tanpa aku harapkan dia pasti akan datang. Tapi mustahil, gengsinya itukan selangit dan bisa hilang sikap cool yang dijunjung tingginya itu.

Setibanya di shelter bus yang lumayan sepi. Hanya ada sekitar tiga orang; wanita, termasuk aku. Lalu aku duduk sambil memijit kakiku yang masih terasa ngilu akibat terkilir dan tadi aku terus memaksa untuk berjalan meskipun pincang sedikit. Aku tak mau berlama-lama mengambil jeda apalagi sambil menunggu Neil yang seketika pergi begitu saja.
Satu wanita yang menunggu sambil berdiri itu melihatku dengan tatapan aneh. Apa ada yang salah padaku? Apa karena busanaku sudah urakkan. Oh tidak, jangan sampai dia berpikir, tidak, tidak. Aku memulas senyum sedikit untuk menyapanya mencoba menebar sikap ramah.

"Sudah jangan diliatin dek, ntar kalo diliatin dikiranya kamu nantang dia", ucap wanita paruh baya yang duduk disebelahku dan bisa kutaksir usianya; mungkin hanya selisih beberapa tahun dengan ibuku.

"Ha? Maksud ibu?", jawabku pelan.

"Iya dia itu nggak sama seperti kita dek. Ini tempat mangkalnya",
Aku memerhatinya dengan seksama. "Masa iya sih bu?",

"Jangan diliatin, nanti dia ngamuk bahaya",

"Ngeri ya bu?", tanyaku

"Apa lo liat-liat gue? Sok kecantikan banget sih lo. Murahan banget. Mata lo itu dijaga gak usah kecentilan", teriak wanita itu.

Aku kaget tiba-tiba wanita itu berteriak dan mencerocos. Aku ingin tertawa mendengarnya memakiku, namun ketika menyadari bahwa aku telah mengerti apa maksud nasehat ibu yang tadi duduk disebelahku, aku jadi takut.

"Dek itu suami ibu udah dateng jemput ibu. Bentar lagi busnya datang kok. Ibu tungguin kamu bentar ya nanti kalo ibu pergi kamunya bisa berabe dibuat dia itu" ucap ibu.

"Iya bu tolong temenin saya ya bu bentar aja" jawabku.
Lalu si ibu mengisyaratkan pada suaminya untuk menunggu sebentar. Dan si wanita malam jadi-jadian nan kelam itu masih saja mencerocos.

"Hati-hati dek kalau jumpa yang begituan lagi mereka itu bahaya. Kadang suka bawa silet. Tapi yang ibu tau yang lebih bahaya itu kalau yang jadi mangsanya laki-laki. Makanya suami ibu, ibu suruh nunggu disana", bisik ibu sambil menunjuk kearah suaminya menunggunya.

"Serem juga ya bu?", bisikku


"Lain kali kalau jumpa pura-pura nggak liat aja, cari aman. Biarin aja dia dengan dunianya. Tuh bus nya udah datang. Kamu masuk hati-hati ya. Ibu jadi was-was",

"Iya bu, saya bakalan hati-hati kok bu. Makasih bu"

"Ibu pulang ya dek"

"Hati-hati bu", aku melambaikan tanganku pada ibu.

Wanita jadi-jadian itu sudah ambil posisi, ia mundur ketika petugas keluar bus. Dan aku seketika berlari masuk dalam bus. Aku melesat laju dan sakit kakiku rasanya sudah tak aku pikirkan lagi. Aku memerhati dari kaca bus, wanita itu berteriak sambil mengacungkan tangannya yang memegang silet. Bagaimana bisa?

"Gilaaa!!! Hampir dikuliti aku kalau lama disitu. Setidaknya di detik ini aku masih selamat lahir batin.
Ya tuhan terima kasih",

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[REVIEW] POND'S White Beauty Day and Night Cream

[REVIEW] Citra Sakura UV Powder Cream | Home Tester

[REVIEW] POND'S White Beauty Instabright Tone Up Milk Cream