A Love Untold (1)

Ketika pertama kali aku dipertemukan dengannya, aku mengganggap dunia sungguh tak adil padaku. Neil, laki-laki yang cukup menjengkelkan yang dengan melihat kelakuannya saja mampu membuat mataku sakit sampai ke ubun-ubun.
Aku tidak terlalu ingat detail peristiwa yang seperti apa dan bagaimana, namun yang ku ingat adalah bagaimana ia berdiri dengan raut wajahnya sok khawatir dan berkata "apa sepedamu baik saja", dan "maaf, aku buru-buru", sontak membuatku ingin menjambaknya. Bagaimana bisa ia membiarkan seorang wanita yang ditabraknya tetap pada posisinya yang lumayan kesakitan dan menanyakan kondisi sepeda? Apakah pikirnya semua itu lelucon?
Untuk kedua kalinya, aku kembali dipertemukan dengannya. Dengan hal yang sangat amat menjengkelkan. Ia lagi-lagi menabrakku dan kali ini ia sekaligus menumpahkan minumannya. Oh tuhan, apa laki-laki ini tidak kau beri penglihatan agar ia dapat waspada dan tak menabrak orang seenak jidatnya. Sebenarnya amarah dan kekesalanku dapat kutahan jika saja ia tak sampai mengenai paper tugas yang kubawa saat itu. Sungguh, tugas itu sudah susah payah kubuat ulang and guess what? tenggat waktunya sudah hampir habis. Yang membekas diingatanku saat itu adalah aku menangis dan menyeka bekas tumpahan sembari bergumam "All is well, Liz. All is well", aku bahkan tak sempat melihat bagaimana reaksinya melihatku saat itu.
Dan kali ini, aku harus dipertemukan kembali. Laki-laki inikah yang akan selalu ku temui selama aku (masih) bekerja disini, dari pagi hingga ke petang atau bahkan saat lembur tiba? Oh my god! What would happen later? Untuk sementara, aku menghela napas dan merasa bersyukur saat mengetahui aku masih memiliki waktu libur weekend yang membuatku terbebas darinya.
Namun sepertinya tuhan berkehendak lain, mungkin karena dalam syukurku masih ada rasa tidak ikhlas.
Hari demi hari ku lewati tidak pernah tidak mendapati satu hal menjengkelkan yang diperbuatnya. Jujur, sebenarnya dia tak pernah sekalipun berusaha mengusikku. Namun jika teringat kejadian sebelum-sebelumnya, semua hal yang diperbuatnya membuat mataku ingin selalu melirik tajam, dan mulutku seakan ingin menuturkan sumpah serapah. I don't know why, this is just not me.
I was wondering apakah ia ingat kejadian saat ia mengolok-olokku ketika aku jatuh dari sepeda? Apakah ia ingat saat ia menabrak dan menumpahkan minumannya dan mengenai paper tugasku? Apakah ia ingat saat itu aku menangis? Geez, what the heck i'm thinking about.
Seiring waktu aku mulai terbiasa dengan kelakuannya. Dan terkadang aku merasa bahwa sebenarnya dia terbilang cukup humoris namun dengan cara yang berbeda. How do i know? Aku rasa cukup memerhati dari jauh and i thought everyone knows that. Aku mulai belajar ikhlas dengan kejadian terdahulu, cause i got nothing by doing vengeful things. And i have to accept the fact bahwa sekarang dia adalah rekan sekantorku.
Sudah hampir dua tahun bekerja di company yang sama, aku bahkan tidak mampu akrab dengannya, mungkin dapat dikatakan kami hanya saling tahu satu sama lain saja. Dan itu sudah sangat cukup untukku. Jika berbicara tentangnya terkadang masih membuat sebagian prinsipku menjadi agak goyah. Dari optimis menjadi pesimis, dan itu ketara sekali. Tapi itu hanya akan terjadi jika dihubung-hubungkan dengannya dan tidak pada orang lain.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

[REVIEW] POND'S White Beauty Day and Night Cream

[REVIEW] Citra Sakura UV Powder Cream | Home Tester

[REVIEW] POND'S White Beauty Instabright Tone Up Milk Cream