A Love Untold (3)


"Kau nampak benar-benar ingin lari dari tumpukan itu ya?"
Celetukan seseorang dengan gelagat sok memerintahnya itu membuatku terperangah. Betapa tidak, pekerjaan yang harusnya (telah) selesai dan aku bisa buru-buru pulang ternyata aku harus tertahan lagi diruangan ini.
"Aku butuh kau selesaikan berkas ini dan setelahnya kau boleh pulang",
"Sebentar lagi sudah jam pulang, besok saja ya? Atau aku bawa pulang saja biar aku kerjakan dirumah",
"Ya aku tau ini sudah hampir jam pulang, dan ya kau memang bisa mengerjakan ini dirumah. Tapi jika aku tidak membenarkannya bagaimana?",
Aku tidak berkomentar apa-apa, namun yakinlah ekspresi wajahku sudah berubah.
"Liz, ini harus segera diserahkan pada Mr. Mowls, aku tunggu kau paling lambat 2 jam lagi. Oke", jawabnya singkat.
Baiklah, aku bisa apa. Aku juga tidak tahan melihat wajah meminta sok imutnya berlama-lama. Arrrgghh, aku harus mengulur jam pulang lagi.
Aku kembali duduk diatas kursi panasku. Aku katakan kursi panas karena memang jika dirasakan kursi ini memberikan efek hangat sebab terlalu lama aku duduki.
Aku mencermati berkas yang diberikan oleh Neil tadi, dan ternyata tidak terlalu banyak yang harus kukerjakan.
"Waktu dua jam terlalu lama untuk menyelesaikan ini, aku bisa menyelesaikannya lebih cepat. Lihat saja", gerutuku.
Waktu menunjukkan pukul 06.12 pm and guesss what? Aku menyelesaikannya dengan total waktu satu jam lebih sedikit saja. Buru-buru aku bereskan meja kerjaku dan terakhir aku harus bergegas ke ruangan Neil untuk mengembalikan berkas ini dan aku bisa pulang. Entah mengapa pikiranku hari ini selalu tentang pulang, pulang, dan pulang. Padahal di rumah tidak ada kesibukan yang harus aku selesaikan.
Kehadiran Netha mengangetkanku. Diam-diam dia sudah berdiri memerhatikan aku yang kalang kabut berberes.
"Hehhh, kamu ingin membunuhku?", tanyaku.
"Hahaaa ternyata kamu bisa kaget dan marah juga. Hahaaa", ejeknya.
"Kamu ya nakal, Hahaaa. Untung aku belum tua tua amat", jawabku.
"Iya hahaaa. Eh tapi kok kamu belum pulang? Bukannya kamu dari tadi kebutin kerjaan?", tanya Netha.
"Iya nih nggak jadi pulang. Kerjaan aku ditambah lagi sama Neil, padahal masih ada karyawan lain, kamu juga ada", jawabku kesal.
"Tapi udah selesai kan?",
"Udah kok",
"Yaudah hati-hati Liz, aku duluan ya. Bye",
"Bye Netha cintanya Rex. Hahaa"
"Elizabeth!!! No Rex anymore"
"Oke oke, hati-hati Netha"
Ku lambaikan tanganku sampai Netha menghilang dibalik pintu. Dan sekarang giliranku yang akan menghilang disana. Aku berjalan menyusuri ruang menuju ruangan Neil. Kalau dikira-kira ya lumyanlah jaraknya aku juga bisa stretching sekalian. Tiba disana aku langsung mengetuk pintunya, but no answer. Ku ketuk lagi, still no answer. Kemana dia? Aku sudah mengetuknya berkali-kali namun tak ada jawaban.
"Hey lihat Neil tidak?", tanyaku pada salah satu karyawan.
"Neil sedang rapat, mungkin setengah jam lagi selesai",
"Ah begitu ya. Terima kasih"
Drrrtttt... Drrrrtt....
Aku raih ponselku dan mendapati pesan singkat
Neil : Stay there
What? Jadi aku harus nunggu lagi? Bagaimana kalau aku letakkan saja dimejanya? No, dimana letak sopan santunku jika aku masuk tanpa suruhan lalu meletakan berkas itu begitu saja. Kalau berkas itu terselip dan Neil tidak bisa menemukannya, gawat! That's mean aku harus buat ulang. Tidak, aku tidak mau ambil resiko besar. Kalau tahu dia ada rapat aku tidak perlu buru-buru begini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[REVIEW] POND'S White Beauty Day and Night Cream

[REVIEW] Citra Sakura UV Powder Cream | Home Tester

[REVIEW] POND'S White Beauty Instabright Tone Up Milk Cream