A Love Untold (4)

Kondisi kantor hampir sepi karena sebagian karyawan sudah pulang and that's mean sudah hampir dua jam aku menunggu Neil yang tak kunjung datang. Selama aku menunggu, aku rasa sudah banyak sekali panggilan dan pesan singkat kukirimkan padanya.
  Kapan selesainya?,
  Neil aku pulang saja ya? Berkasnya aku titipin boleh?
  Neil jawab pesanku!,
Neil besok ya aku serahin berkasnya ya? Please...
  Rapat apaansih lama banget? Aku udah laper nih nungguinnya,
Neil aku pulang ya,
Aku tak peduli apakah dia kesal dengan segala spamku. Yang aku mau hanya ini cepat berlalu. Kantin sudah setengah jam lalu tutup, perutku sudah keroncongan, ponselku sudah lowbat dan aku tidak membawa charger karena perkiraan awalnya aku akan pulang lebih awal. Geez, lengkap sudah penderitaanku.
Ya aku sangat membenci keadaan yang mengharuskanku menunggu tentang hal kecil seperti ini. Aku tak pernah membiarkan orang lain menungguku terlalu lama jika mereka ada keperluan denganku, jadi aku rasa akupun tak perlu menunggu jika itu tidak penting penting amat. Dan aku rasa tidak ada manusia yang menyukai berada dalam keadaan menunggu ditambah dengan perut yang sudah berdemo, benar kan?
"Oh ya tuhan sudah jam segini dia belum juga selesai? Tumben banget ngadain rapat di akhir jam pulang gitu",
Aku mulai berdiri cemas dan dilema memilih pulang atau tinggal. Dengan keadaan ponselku yang lowbat aku tidak bisa menghubunginya jadi ku putuskan untuk melihat ke ruang rapat.
"Whatttt?",
Aku hanya bisa medengus kesal melihat keadaan ruang rapat yang didalamnya hanya terdapat CS yang sedang membersihkan ruang tersebut.
"There's no one here. Is he joking me? OMFG That's not funny at all. Neil, watch you!", aku menggerutu geram.
"Ada yang bisa saya bantu mbak?", tanya salah seorang CS padaku.
"Rapatnya sudah lama ya selesainya mas?", tanyaku demgan ekspresi yang sudah campur aduk.
"Kira-kira 15 menit yang lalu lah mbak. Kenapa ya mbak?",
"Apakah pak Neil juga sudah pulang?",
"Oh pak Neil tadi ke ruangannya dulu mbak...",
"Ya ya makasih mas",
Belum selesai rasanya mas CS tadi bicara tapi sudah kusela. Aku harus bergegas menuju ruangan Neil dan mungkin saja dia masih disana.
Setibanya aku disana yang kudapati hanya ruangan Nril sudah gelap. Dan itu bermakna Neik benar-benar sudah pulang. Ah sialan, aku sudah terkena jebakannya. Apa untungnya dia mengerjaiku seperti ini? Apakah gajinya dinaikkan Mr. Mowls? Ingin rasanya aku teriak di gedung ini toh tidak ada orang lagi.

"Sialaaaannnnn kamu Neil", teriakku.

Aku rasa CS tadi mendengar teriakanku dan aku sungguh tak peduli. Aku berjalan sambil menghentak-hentakkan kaki sebab kekesalanku, ingin rasanya kujambak dan ku acak-acak mukanya jika saja aku bertemu besok. Sepanjang jalan menuju keluar kantor tak hentinya aku menggerutu.
"Aaah",
Sampai aku tak menyadari jika aku melewati dua anak tangga sekaligus dengan hak tinggi di kaki. Dan hasilnya adalah jelas aku terduduk seperti duyung terdampar. Memalukan. Kulepas higheels dan mencoba berdiri tapi masih terasa sakit. Ngilu sekali.
Gara-gara menggerutu aku harus terseliuh. Aku tahu ini salahku karna tak memperhatikan sekitar ketika berjalan. Tapi kan itu terjadi juga karena aku yang kesal terhadap Neil.

"Ehm",
Suara berat mendeham membuatku terdiam. Tapi setahuku tidak ada orang disini selain aku. Oh ya ada satu pria yang berdiri di samping pintu keluar. Aku hanya nampak ia menyilangkan tangannya. Kondisi sekitar yang remang ditambah penglihatanku yang tidak bagus ketika malam membuatku tidak bisa mengenali siapa pria itu. Hingga ia berjalan mendekat. Neil? Kenapa dia ada disana?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[REVIEW] POND'S White Beauty Day and Night Cream

[REVIEW] Citra Sakura UV Powder Cream | Home Tester

[REVIEW] POND'S White Beauty Instabright Tone Up Milk Cream