A Love Untold (2)

Aku belum pernah bercengkerama secara intens face to face hanya untuk sekedar bersenda gurau belaka. I have no time for that, dude. I'm not antisocial, but this guy makes me act so difference and i don't know why. Aku tidak menarik diri darinya. Semua berjalan normal dan wajar layaknya rekan kerja lainnya.
As i said, i need to let my ego just fine. Dan sebenarnya dia telah menjadi teman bahkan sejak dari hari pertama ia bekerja disini. I need to be professional right? Masalah yang aku besar-besarkan selama ini sebenarnya hanya sebagian dari sisi privasi kelabilanku sebagai wanita. -Don't laugh!. Dan tidak ada yang mengetahui ini sekalipun itu Rachel, teman terbaikku.
Rachel hanya tahu aku adalah wanita yang tak pernah bisa jatuh cinta. Baginya aku hanya mampu mencintai Mora, kucing yang ku temukan dalam kardus sampah saat pulang mengantarnya yang sedang mabuk karena frustasi kisah percintaannya dengan Robert kandas. Poor Rachel, but now she's even better with her new life and she will be a mother soon, yeaaay. I'm so happy for that.
Aku teringat ketika Rachel memberiku kata-kata bijaknya sebelum bergegas ke lokasi sakral itu. Lokasi pengucapan janji suci antara dia dan Mark. Laki-laki yang ternyata sudah lama menyimpan rasa terhadapnya. Jodoh itu dekat, hanya saja kurang terlihat.
"Liz, aku gugup. Katakan padaku ini bukan mimpi. Katakan Liz!",
"Tidak, Rachel. Ini adalah mimpimu yang nyata. Lihat dirimu, kamu sangat cantik. Ayo turun nanti kita terlambat",
"Liz", ia menahanku, matanya berbinar, ia bahagia aku tahu dan aku pun sama bahagia dengannya. Bagaimana tidak setelah menahun ia mati rasa, lama merawat luka cinta, sekarang ia mekar bak mawar berbunga.
"...Suatu saat kamu akan jatuh cinta, Liz. Kamu akan menemui pria yang dengan kehadirannya mampu membuatmu bahagia, mampu membuat jantungmu itu berdegup kencang. Jika ia jauh darimu, akan ada rasa sesak disini (ia menunjuk dadaku) dan kamu tidak bisa tidur nyenyak memikirkannya, itu tandanya kamu sedang rindu padanya. Namun tak semuanya bahagia, Liz. Kamu akan terluka lalu kembali jatuh cinta lalu terluka lagi. Kita menyaksikan semuanya. Liz, kamu harus percaya sama seperti aku percaya bahwa akan ada satu pria yang menerima wanitanya apa adanya...",
Perkataan Rachel telah manjadi sebagian dari mimpi yang ingin kuwujudkan. Tapi bagaimana bisa? Hidupku hanya seputar kerja dan terkadang hobby. Ditambah pekerjaan yang semakin padat semenjak pembaruan divisi. Dan menyadari bahwa Neil sudah tak sedivisi denganku. What? Neil? Kenapa harus aku terpikirkan laki-laki itu? Oh god i need a rest!
Tiga bulan berjalan bekerja dengan bentukkan divisi baru aku merasakan suatu perbedaan. Berada pada lingkungan kerja yang semakin monoton membuatku cepat merasa lelah. Mungkin karena komplotan kegilaan divisiku sebelumnya juga sudah berpencar dan kami sudah lama tidak hangout bareng secara lengkap.
"Hey, ini sudah jam makan siang bukan jam termenung meratapi nasib yang itu-itu saja", kehadiran Netha membuyarkan lamunanku.

"Oh Netha, kamu duluan saja. Masih ada sedikit berkas yang harus aku tuntaskan", jawabku.

"Benarkah sedikit? Aku curiga tentang sedikitmu itu. Hahaa, okelah, bye", lambaian tangan gemulai Netha hanya ku sambut dengan senyuman dan anggukan lemah.
Sebenarnya aku sudah memesan delivery food, jadi aku tak perlu menyusul Netha. Aku ingin di kantor saja. Pikiranku seperti mensugestiku harus cepat menyelesaikan semua tugas kantor hari ini dan lekas pulang.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

[REVIEW] POND'S White Beauty Day and Night Cream

[REVIEW] Citra Sakura UV Powder Cream | Home Tester

[REVIEW] POND'S White Beauty Instabright Tone Up Milk Cream