Separuh Jalan (8:45pm)

"Aku pikir kau turut bahagia saat aku menemukan cinta, Al. Dan satu yang harus kau tahu, dia tak seperti yang kau katakan. Dia itu kekasihku, Al. Dia bukan jalang! Sudahlah, kau jangan meracuni pikiranku dengan semua omong kosongmu itu, Al. Jika kau terus mendesakku, kau lah si jalang itu!"
Ya Tuhan, rasanya sesak sekali dada ini jika teringat perkataan Josh saat ia menyebutku si jalang. Di saat yang sama ketika aku berusaha membuatnya percaya bahwa wanita yang menjadi pujaannya adalah wanita yang penuh tipu daya. Yang sangat jelas terlihat jika wanita yang saat itu dibelanya mati-matian adalah jalang sejati yang juga sedang mati-matian menyembunyikan jati diri.
Aku memang kecewa, aku benar-benar dibuatnya terluka. Namun aku tak punya kuasa apa-apa. Jadilah ia ku pendam meski sebenarnya di dalam sana ia telah remuk redam. "Bagaimana bisa aku bahagia melihat orang yang aku cinta hidup bersama wanita yang penuh dusta. Jika saja wanita itu tak begitu, mungkin aku akan mencoba ikhlas melepasmu. Tuhan, buat aku kuat. Aku tau kau bersamaku, Tuhan" mungkin hanya itu mantra mujarab penenang hati yang sedang memberang.
••••••••••••
"Hai, Josh!"
"..." ia tak menjawabku.
"Josh?" kembali aku berucap.
"Hm", jawabnya malas.
"Kau tak apa?" tanyaku.
"..." ia tak menjawabku lagi.
"Kau mau aku buatkan teh?" kembali aku bertanya, yang kemudian hanya di jawab dengan sebuah gelengan.
"Ehhh, ummm...
Raphael bilang kau..."
"Argh, kau ini cerewet sekali, Al."
Aku tak berani berkata. Karena di saat Josh bertingkah seperti itu artinya suasana hatinya sedang benar-benar kacau. Suasana menjadi hening beberapa saat.
"Apa lagi yang dikatakan si kacamata itu padamu?"
"Ehhh, ummm...
Raph bilang... Kk..kau bertengkar dengan Jessy"
Oh astaga, pertanyaan Josh bagai kilat yang menyambarku. Bagaimana tidak, aku yang telah lebih dulu pucat pasi dihadapkan dengan situasinya yang sedang kacau balau, lalu ditenggelamkan dalam keheningan hanya dengan satu bentakkan. Dan sekarang mata hazel itu menatapku penuh selidik, membuat aku bergidik.
"Jadi kau datang kesini hanya untuk menanyakan itu, Al? Heh, Tidak penting sekali. Apa kau tak ada urusan lain sampai harus mengurus permasalahan orang yang kau sendiri tak ketahui?"
Deg! Lagi, perkataan kasar itu keluar lagi dari mulutnya. Aku bisa melihat rahangya yang mengeras. Dia benar-benar berada pada puncaknya. Tapi kenapa? Apa ia telah mengetahui bahwa Jessica... Ah tidak, tidak. Raphael bilang mereka hanya sedang bertengkar, namun bertengkar yang bagaimana aku tak tahu. Sebab itu aku datang menemui Josh, untuk menenangkannya., untuk membuktikan padanya bahwa aku bukanlah si jalang yang tak bisa bahagia membiarkan ia bersama wanitanya.
"Bb.. bukan begitu Josh. A..aku khawatir padamu"
"Khawatir? Benarkah?"
"I...iiya Josh"
"Kau khawatir padaku karena masalah yang terjadi padaku atau kau khawatir tak memiliki kesempatan melihatku jatuh tersungkur karena tak mengindahkan perkataanmu waktu itu, heh?"
"Maksudmu?"
"Jangan pura-pura, Al. Kau dan Jessy sama-sama jalang!"
"Josh!!! Jangan kau samakan aku dengan wanita itu. Aku bukan jalang! Aku bukan jalang!" teriakku.
Sungguh pertahanan emosiku akhirnya runtuh jua. Kendali yang selama ini aku pegang erat telah terlepas. Aku benar-benar diambang kesabaranku. Kaki ku yang lunglai dengan segera disambut sangat ramah oleh mengkilapnya lantai. Seharusnya aku tak boleh terlampau emosi begini.
Josh yang mendapatiku terduduk lesu segera berusaha menolongku. Namun tangan kekar itu ku tepis, mengingat hati ini terlanjur sakit seperti terhiris.
"Tidak, Josh. Jangan sentuh aku. Aku bisa berdiri sendiri!" pintaku
Ujung pelupuk mataku sudah meluap butiran air hangat. Yang kemudian jatuh membanjiri dress yang aku kenakan membentuk bercak hasil genangan.
"Separah inikah Josh?", gumamku. Aku berusaha berdiri, membalikkan badan, dan mencoba dengan tergesa menjauhi lelaki yang sedang rapuh dan menjadi hancur karena terkhianati oleh orang yang ia cintai. Lalu bagaimana denganku? Aku juga terluka disini, aku juga kecewa disini. Namun lebih hebat dari tragedi yang berlaku diantara Josh dan si jalang itu. Dan lebih nahas dari kisah Josh yang telah usai itu.
"Ally!" teriakkan pertamanya bergema di telinga. Dicegatnya aku hingga ambang pintu yang ternganga.
"Josh, aku mohon biarkan aku pergi. Akalku benar-benar tak bisa mencerna kejadian tadi"
Benar saja, tangan itu dengan pasrah melepaskan genggamannya. Ia membiarkanku pergi tanpa ada sedikitpun terselip ucapan maaf dari bibirnya.
Langkahku makin mantap setelah melewati pagar halamannya. Membaur bersama hujan, kembali butiran hangat di ujung pelupuk itu muncul tak mau kalah dengan derasnya butir sejuk yang menghantam tiap sisi jalanan.
"Ally! Ally!" teriakkan keduanya hadir tanpa diikuti tindakan apa-apa. Ia terlihat sangat bersalah namun pasrah.
"Ally, maafkan aku" ucapnya lirih sembari melihatku yang tertatih beranjak pergi.
-- Separuh Jalan (8:45pm)
Picture by Pascal Campion
Source : Pinterest

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[REVIEW] POND'S White Beauty Day and Night Cream

[REVIEW] Citra Sakura UV Powder Cream | Home Tester

[REVIEW] POND'S White Beauty Instabright Tone Up Milk Cream