Aku, Kau, Dia

     Aku sebenarnya bukanlah gadis dengan tipikal mudah jatuh hati. Tapi untuk menaruh rasa suka atau kekaguman terhadap seseorang pun bagiku tidaklah juga sukar. Selama aku hidup hanya satu lelaki yang benar-benar sulit aku hapus dari memori, Ayah. Yup, klise memang tapi begitulah kenyataannya.  Bahkan pada salah satu quote  mengatakan, "Bagi anak perempuan seorang ayah adalah cinta pertama dan patah hati terhebat mereka". Sedewasa apapun, I'm still Daddy's little girl right? Tak akan ada yang bisa mengganti posisinya, jika pun ada, tak akan sama persis seperti cintanya. Namun aku tahu, suatu saat nanti aku pasti akan menemukan cinta yang baru, cinta yang akan melindungiku, menemaniku, mengasihiku, mendidikku dan anak-anakku serta hidup dan menua bersamaku.

     Dulu waktu aku kecil, ketika pertama kali aku pindah ke rumah baru disini --rumah yang aku tinggali sekarang--, aku tak pernah menyangka akan dipertemukan dengan lelaki yang akan mengisi separuh hatiku sampai saat ini. Seminggu setelah aku tinggal di rumah baru ini, aku yang belum terlalu akrab dengan lingkungan dan orang-orang didalamnya mulai gencar beradaptasi. Tak banyak anak seusiaku ataupun setahun-dua tahun diatasku. Karena memang aku tinggal diperumahan yang masih terbilang baru dan sebagian wilayahnya masih dalam proses pembangunan. Masyarakat mayoritas adalah para pasutri yang masih belum lama menikah atau pasutri yang anaknya masih lucu-lucu, dan karyawan PT yang rata-rata masih hidup ngontrak dan melajang.

     Aku lupa kapan tepatnya aku dan kamu resmi berkenalan, namun yang ku ingat kamu tak seramah yang aku bayangkan saat itu --dan itu berlangsung hingga sekarang--. Dulu setiap kali aku ingin ikut bermain, kamu selalu memasang wajah sinismu. Namun terkadang kamu juga memang sengaja datang menantangku untuk bergabung melawanmu. Bahkan pada masa di sekolah dasar dulu, aku sampai ahli memata-matai seluruh gerak gerikmu hanya berusaha untuk mencari celah bagaimana caranya bisa mendapatkan perhatianmu. Atau aku berusaha berteman dengan salah satu teman sekelasmu untuk mencari tahu siapa saja yang suka menjahilimu.

     Kalaulah aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi bagaimana caraku mengadukannya kepada ibumu? Ketika kau diperalat teman-temanmu disuruh ini itu, dikerjai sampai dipukuli dan dicakari. Bahkan aku rela kamu marahi dan pelototi hanya agar mulutku tertutup rapat saat ditanyai oleh ibumu mengenai luka yang ada di lehermu saat itu. Dengan mengetahuinya apakah aku hanya akan diam saja? Tidak, aku akan menuliskan semuanya di kertas, dan diam-diam aku pergi mengantarkannya kepada ibumu ketika kamu sedang asik main bola di lapangan sore itu. Sungguh aku terlanjur menaruh rasa sedini itu terhadapmu, di usia yang sangat muda untuk seumuran anak kelas empat dan lima SD. Ya, itulah aku dulu.

     Lalu, saat kamu menamatkan sekolah dasar itu, aku benar-benar sendiri, mengingat tak ada yang perlu aku mata-matai lagi. Hahaa. Well, aku hanya berharap teman-teman baru di sekolah menengah pertamamu itu adalah orang-orang baik yang akan menjagamu.
Dan sebentar saja kamu hilang dari peredaran pandangan dan pikiranku. Aku kembali memfokuskan segalanya pada pelajaranku yang kian padatnya, dan tak ada lagi sosok kamu yang dulu mengambil sebagian porsi fokusku. Ya meskipun sebelumnya pelajaran sekolah tak terganggu saat harus terbagi dengan adanya kamu.

     Aku berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan nilai yang memuaskan dengan cara yang terbilang melelahkan, namun cukup membanggakan untuk masuk ke sekolah menengah pertama unggulan. Namun sayangnya aku tak lolos meskipun perbedaan poin hanya sekitar 0.1 saja. "Masuk sekolah unggulan tak serta merta menjamin masa depan nak, semua tergantung usaha. Dan kamu sudah berusaha sangat kuat. Hanya saja rejeki kamu tidak disini, tapi pasti Allah sudah siapkan rejeki ditempat lain yang lebih baik untuk kamu. Suatu saat kamu akan tahu nak", begitulah cara ibukubtersayang menenangkan isak tangisku begitu tahu aku tak lolos di sekolah favorit itu.

     Hari berganti hari, minggu berganti bulan. Aku cukup nyaman bersekolah di sekolah menengah pertama ini --sekolah unggulan nomor dua dalam daftarku--. Meskipun aku harus kembali bertemu kamu yang menjadi alasan aku berusaha kuat masuk disekolah unggulan itu, dan dengan hati yang menolak sangat keras untuk harus reunian dengan kisah masa lalu -Prettt. Hahaaa-

     Disitu waktu itu, pikiranku benar-benar bersih dari godaan perasaan tentang kamu. Entah mengapa rasa itu menguap begitu saja. Atau karena memang aku telah membuat jarak, entahlah. Padahal kamu cukup sering lalu lalang di depan kelasku dan aku hanya bersikap biasa saja. Tak lagi sesenang saat kamu berkunjung ke kelasku membawa buku suruhan guru saat jaman SD dulu. Bahkan aku tak butuh motivasi bangun di awal pagi untuk buru-buru berangkat sekolah. Semua biasa saja. Flat, and i think it's just normal.

     Lalu kita semakin tumbuh ke level yang tinggi lagi, remaja. Dan semua terasa biasa saja. Aku tak lagi memperhatikanmu dengan seksama meski dari kejauhan  sampai sekali lagi kamu sukses menamatkan sekolah. Bukan, bukan karena aku patah hati saat tak kamu hiraukan. Tak ada yang membuat aku patah hati yang benar-benar patah hari kecuali tragedi poin minus 0.1 waktu itu.  Yup, that hurts me so!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[REVIEW] POND'S White Beauty Day and Night Cream

[REVIEW] Citra Sakura UV Powder Cream | Home Tester

[REVIEW] POND'S White Beauty Instabright Tone Up Milk Cream