Adakah Itu Rahasia Cinta (2)


"Dek, ngeliatin siapa sampe melongo gitu?", pertanyaan mbak Asih membuyarkanku.

"Eh anu mbak, nghhh nggak liat apa-apa kok. Hehe..."

"Yaudah, kamu bawa Ahmad makan siang dulu. Entar mbak nyusul"

"Iya mbak" jawabku. Lalu aku membawa Ahmad untuk makan di kantin Bude Jum yang letaknya tak jauh dari samping TU.

Sekarang aku disini menyuapi si ganteng Ahmad dengan bekal yang sudah disiapkan oleh mbak Asih. Saking asiknya aku sampai tidak tahu kalau laki-laki yang membuat banyak tanda tanya dikepalaku tadi sedang asik menyesap minumannya lalu kembali memainkan layar telepon pintarnya. "Lho anaknya mana ya?", aku celingak celinguk sambil bergumam. Merasa tak penting, aku acuhkan saja pertanyaanku tadi dan kembali fokus pada si ganteng Ahmad. Namun isi kepalaku seperti bertentangan dengan inginku. Didalam sana seperti sedang mengubrak-abrik berkas ingatan mengenai sosok laki-laki itu.
*****

Waktu bergulir menunjukkan pukul 15.00 WIB dan urusan hari ini akhirnya selesai. Yup, Ahmad juga sudah tertidur dipangkuanku saking capeknya. "Waktunya pulaaang, yeay!" Bisikku pada mbak Asih yang hanya tekekeh menanggapiku. Aku berusaha menggendong Ahmad tanpa membangunkannya. Dan disinilah aku sekarang. Di dalam mobil duduk dengan nyaman dengan Ahmad yang kembali berada dipangkuanku.

"Akhirnya mbak, aku udah gerah dan capek banget loh. Ngajar aja gak secapek ini. Hehe" keluhku.

"Oalah, mbak aja ntar malah lanjut lagi dirumah banyak yang mau diurus. Lha kamu gimana mau nikah punya anak, sama Ahmad aja kamu udah nyerah" 

"Ya kan aku belum mau nikah mbak, hehe"

"Wis nunggu kapan lagi kalau belum mau terus? Kamu itu makin tua"

"Ah mbak kesitu lagi omongannya males ah"

"Hahaha yowes lah"

Dalam perjalanan pulang pun aku masih terpikirkan tentang "siapa laki-laki itu", dan mengapa aku begitu susah mengingatnya.

"Eh dek kamu kenapa toh ngelamun aja dari tadi. Di kantin juga tadi mbak perhatiin. Kesambet?"

"Astagfirullahaladzim, serem deh mbak. Amit-amit"

"Yo trus kenapa?"

"Nggak ada apa-apa mbak. Cuma lagi mikir aja"

"Mikirin apa? Mikirin nikah sama siapa ya? Hehehe"

"Tega bener dah ah kesitu lagi larinya"
"Kepikiran kapan bisa S-2 mbak"

"S-2 itu artinya sudahkah aku bahagia ya?"

"Ya allah mbak tega bener ya makin disudutin"

"Hehehe"

Ya begitulah mbak Asih, suka gencar melayangkan pernyataan dan pertanyaan diluar batasku. Sama seperti Dilla sahabatku yang juga sering menanyakan hal yang sama. Meskipun ketika berkabar lewet telepon orang tuaku tak menanyakannya, namun nantinya juga akan ku dengar pertanyaan itu dari orang tuaku ketika aku pulang kampung. Yeuh, sabar ini ujian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[REVIEW] POND'S White Beauty Day and Night Cream

[REVIEW] Citra Sakura UV Powder Cream | Home Tester

[REVIEW] POND'S White Beauty Instabright Tone Up Milk Cream