The Hardest Thing : Lovesick? (3)

Aku mengikhlaskan waktu memperlihatkan segala takdirnya. Meskipun aku telah mempersiapkan segala kemungkinannya, selalu ada kejadian tiba-tiba di luar rencana. Aku dan kamu masih seperti biasa. Meskipun aku sudah lupa kapan terakhir kita bertanya kabar. Ya, kita berkabar dengan banyak sekali jeda diantaranya. Sebulan lalu? Dua bulan lalu? Tiga bulan lalu? Entahlah, yang penting kamu masih mengingatiku.

Terakhir aku tau kamu sedang dekat dengan wanita. Aku tak tau dia siapa, kamu hanya bilang dia hampir sempurna. Sekali lagi aku kalah telak dengannya, tapi kenapa aku masih kekeuh menyimpan rasa yang nyatanya membawa luka? Bukan, bukan karena aku kepo sampai ngestalking kamu di sosial media, memang kamu sendiri yang bersedia bercerita. Aku mengira-mengira bagaimanakah parasnya? Bagaimanakah tutur katanya? Bagaimanakah dia seutuhnya?! Sedangkan aku gak ada apa-apanya!!! Dalam sibukku mengira-ngira siapa dia, taukah kau apa yang juga sempat terlintas dibenak wanita yang seadanya ini? Yang hatinya terkoyak lagi? Koyakan karena ulahnya sendiri? Konyol sekali. -ia lelah mencintai tapi tak pernah mau menyerah segampangnya. Ia percaya kamu miliknya, ya miliknya dialam mimpi sana-

Lama, lama sekali kamu kembali mencariku meski hanya sekedar bercerita. Meski topik cerita itu tak pernah membahas tentang aku. Selalu kamu dan dia yang kamu kagumi. Tapi tak apa, janji kamu masih ingat siapa yang harusnya kamu percaya saat meluahkan rasa ketika bahagia karena dia. Sesak dada ini, segala rasa telah bercampur disini. Tiba-tiba handphone-ku berdering, satu pesan masuk. Aku malas mengeceknya. Karena aku tau kalau kamu jam segini sudah pamit diri untuk menenggelamkan diri didunia fantasi. Dan aku juga akan menyusul kamu di dunia itu, kamu mimpi indahku.

Lalu pagi ini aku teringat jika semalam ada satu pesan masuk yang sengaja tak aku acuhkan. Ya Tuhan, betapa terkejutnya aku karena mendapati namamu dilayar ponselku. Bahagia bukan kepalang karen akhirnya kamu menghubungiku lagi setelah sekian lama hilang entah kemana. Tapi, apa yang harus aku lakukan? Benarkah yang kamu ucapkan? Aku menyesal tak langsung melihat dan membalasnya semalam. Oh ya tuhan, benarkah ini?

"Besok aku ingin bertemu. Jam 9 pagi ", begitu tulismu.

Waktuku tinggal sekitar satu jam lagi menuju pukul 9. Kepastian kedatanganmu aku ragukan. Tapi aku tau kamu tipe yang selalu on time, bila perlu sebelum waktunya kami sudah ada disana. Tapi untuk apa Sebuah ketukan mengagetkanku. Dan ini baru jam 8 lewat. Benar prediksiku, kamu datang lebih cepat dari yang kamu tentukan. Bahagia akhirnya aku bisa kembali melihat senyum ramah itu. Persis senyum diawal aku melihatmu di labor multimedia. Bahkan lebih mempesona dari yang pertama kali kulihat. Lebih gagah dari yang ku kira.

Lalu kamu menyodorkan suatu kotak dibalut pita nan cantik. Kamu bilang jika itu adalah kenang-kenangan. Degup jantungku yang berirama tenang tadi sedikit kehilangan ritmenya. Aku seperti gelisah. Lalu diatasnya kau letakkan kembali sepucuk amplop berwarna merah muda. Lalu kau berkata "Datang ya", setelahnya kau pamit karena harus mengantarkan sisa amplop merah muda itu ke teman lainnya. Senyum itu kembali kau layangkan kepadaku. Tapi tak ku dapati lagi ketentraman hati. Aku terpaku memandangimu yang berlalu.

Brakkk!!! Ku hempaskan pintu itu sampai tertutup dengan kerasnya. Figura disampingnya terhentak retak. Kotak cantik pemberianmu aku lempar begitu saja. "Aku selesai Naz, aku selesai. Luka ini telah selesai aku rawat. Dan sekarang biarlah luka ini membusuk bersama aku yang rapuh ini" ucapku dengan lirih dan berjalan tertatih. Kisah ini nyatanya tak pernah dimulai, karena sejak awal aku tak benar-benar berjuang untuknya. Berjuang mengungkapkan kebenarannya. Kebenaran bahwa akulah wanita yang diseparuh hidupnya memuja pria yang tak punya cinta. Karena cintanya telah termiliki oleh yang lainnya.


End~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[REVIEW] POND'S White Beauty Day and Night Cream

[REVIEW] Citra Sakura UV Powder Cream | Home Tester

[REVIEW] POND'S White Beauty Instabright Tone Up Milk Cream