The Hardest Thing : Lovesick? (1)


Prolog

Aku wanita yang selalu berharap jika kamu dan aku akan berakhir dipelaminan. Duduk bersanding, lalu menjalani perjalan baru denganmu. Membesarkan buah hati kita, melihat mereka bahagia mendewasa, dan kita menua bersama. Lalu akankah harapan ini terdengar oleh sang Aphrodite?
-- Neesha Hanggini
*********************

Berawal dari ruang multimedia, kita duduk berdepanan terhalang perangkat canggih yang entah masa itu ditingkat pentium berapa, aku lupa. Dan aku gak terlalu paham cara menggunakan piranti yang teronggok di depan mukaku ini. Yang jelas, senyum ramah yang terarah tepat kepadaku takkan terlupa sampai waktunya. Sampai waktunya kamu kembali aktif pada monitor itu, sial aku terpesona! Bodohnya aku baru sadar bahwa kita satu kelas. Haha. Ya aku gak tau kalo kamu duduk di barisan nomor dua dari depan, abisnya kamu pendiam and a lil' bit malu-malu kucing. Lah aku duduk di barisan nomor dua dari belakang, zonanya anak-anak yang terlabel bandel. Lagian masa transisi dari kelas lama ke kelas baru kan butuh waktu, kita belum bisa nyatu.

Tumpukan harapan yang hampir berantakkan dipertengahan jalan, akhirnya menemui jalan pulang. Mungkin terlalu cepat aku menaruh harapan, tapi gak ada salahnya dijadikan motivasi bangun pagi dan rajin kesekolah kan? Childish detected, masih belia sok kenal cinta padahal jajan masih minta mama. Wkwkwk. Jadi, ketika di kelas aku tiba-tiba bosan, dengan ngeliatin kepala botak kamu dari belakang saja sudah cukup memotivasi aku loh. Ya gak botak-botak amat dah, maklum potongan rambut anak laki militer suka bikin ngiler.

Waktu bergulir, detak jatungku ketika ada kamu kian mendesir, serrr. Hahaaa. Ya aku bersyukur kita mulai akrab. Semakin tau kalau ternyata kamu itu gak se-malu-malu kucing yang aku prediksi. Dan anak kelas malah lebih kocak dari yang nampak. Sadly aku jatuh dalam zona yang kamu ciptakan dan aku cukup nyaman. Aku terlalu asik menenggelamkan diri diseputar lautan kenyamanan kamu, sampai aku tau bahwa dosa besar yang ada padaku ialah aku tak sefeminim wanita bergingsul itu. Aku terlalu terobsesi, sehingga rela berubah drastis hanya ingin seperti dia. Satu hari aku lewati berlagak feminim, tapi nihil. Aku malah terlihat sangat aneh, lagipula aku tak sanggup berpura-pura. Its not me! Tapi kamu tau, kamu bilang jika mencoba itu butuh proses dan tak serta merta berubah langsung yes. "Bagaimana kamu tau?" teriak batinku. Antara bahagia atau kecewa sih sebenarnya, tapi gak apalah.

Singkat cerita, aku tetap aku yang apa adanya. Bertingkah normal, nakal, dan tak masuk akal sesuai porsinya. Dan feminim, tak ada dalam kamus kehidupanku. Hanya saja satu catatan istimewa darimu untukku yang sangat aku apresiasi. "Jadilah wanita sejati" bagitu tulismu  dalam pesan singkat waktu itu. Aku, kamu, dia, dan semua tetap berteman seperti yang seharusnya.  Namun perasaan aku ke kamu tak hilang begitu saja, tetap aku simpan dalam-dalam dan diam-diam. Episode kehidupan gak berhenti sampai disitu, namun tetap berlanjut ke jenjang selanjutnya. Banyak banget kenangan pahit manis yang aku alami. Terpisah karena beda sekolah, tiga tahun gak jumpa selain saat hari raya. Kadang aku suka kangen waktu kamu iseng nelpon, dengan alasan abisin bonus lah, groupcall lah. Seneng aja gitu. Suka mampir di medsos iseng-iseng chatting, widihhh gak kebayang lagi bahagianya. Sederhana aja kan? Tapi tiap kali aku lagi bahagia aku selalu kepikiran, apa kamu ngerasain yang sama juga? Bahagia juga? Entahlah

Lalu kita semua sama-sama mendewasa dengan jalan yang kita pilih berbeda. Lulus SMA, kuliah, kerja, atau nikah? Terserah. Kebanyakan dari kami memilih kuliah dan kerja. Mereka juga banyak yang nyambil. Sambil kerja malamnya kuliah. Atau sambil kuliah eh nyandang predikat istri orang. Krik krik krik... Aku fokus kuliah dan kamu fokus kerja. Kalo dulu cuma terpisah waktu, sekarang totalitas. Waktu dan jarak pun ikut memisahkan aku dari kamu. Dan perasaan itu gak hilang sampai detik ini, bayangin deh? Sayangnya kamu gak tau kalau aku manaruh rasaku untukmu begitu besar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[REVIEW] POND'S White Beauty Day and Night Cream

[REVIEW] Citra Sakura UV Powder Cream | Home Tester

[REVIEW] POND'S White Beauty Instabright Tone Up Milk Cream