The Hardest Thing : Lovesick? (2)

Source : Pinterest


Dipisahkan seperti ini membuat aku bertahan memendam rasa untukmu dengan dada yang sesak. Ada yang ingin aku luahkan tapi tak sanggup aku lakukan. Aku terlalu berhati-hati soal perasaan, apalagi jika terjadi penolakan. Mentalku belum siap. Pada kesempatan tertentu aku malas untuk berkomunikasi denganmu, aku takut baper --kata anak jaman sekarang--. Dan di lain kesempatan yang aku selalu berharap tentang sebuah keajaiban, keajaiban entahlah aku pun tak bisa menjelaskannya lebih rinci. A little chit-chat with you always makes a sense, here in my heart. Yes you did! Berbarengan dengan membuncahnya bahagia yang aku rasakan selalu ada ketakutan disana. Takut kamu hanya menjadikan aku selingan dikala bosan. Itulah sebabnya aku sedikit malas jika terlalu lama membiarkan perasaan seperti ini menjalar. Kamu, segala tentangmu selalu susah diterka.  Namun caramu memperlakukanku membuat aku ingin tau segalanya. Kadang kamu membuat aku merasa dicintai, diingini. Kadang kamu juga membuat aku merasa gak ada apa-apanya di banding wanita yang kamu puja, siapa dia?

Ya, kamu pernah bercerita bahwa ada yang menarik perhatianmu ditempat kerja. Perempuan anggun seperti impianmu, dan aku tak akan pernah bisa mencapai taraf itu. Aku berbeda, aku terluka. Sedikit informasi mengenainya saja sudah membuat memori lama terbuka. Betapa aku susah payah mencoba menjadi wanita sesungguhnya. Anggun, lemah lembut, dan hal-hal yang identik dengan wanita? Coba apa yang terlintas? Aku jauh dari itu, aku kasar, suka blusukan, dan hobi keroyokan. Kamu juga sempat send picture abis makan siang bareng di office dengan dia dan teman sekantor lainnya. Tapi aku bisa apa? Mustahil aku marah membabibuta, karena memang aku tak berhak atasnya. Well, sebut saja aku sedang terbakar cemburu dengan cinta tanpa tahta. Mengetahui fakta bahwa pria yang aku dambakan sedari jaman sekolah rendah sudah menemukan tambatan hatinya. Tapi, harusnya aku bahagiakan? Iya kan? Lalu kamu bilang jika beberapa bulan lagi kontrak kamu habis dan gak bisa menemuinya lagi, kalau pun bisa, susah sekali.

Hampir lima bulan setelah kamu berhenti kerja. Kamu ngabarin aku kalau kamu udah kerja lagi dengan kerjaan yg lebih baik dari kemarin. Tapi semenjak itu kamu gak pernah lagi menghubungi aku. Dan semenjak itulah selalu aku yang mengabarimu meskipun tidak rutin kita berkabar. Kalau dihitung-hitung dari kelulusan sudah hampir enam tahun kita tidak berjumpa. Kamu tau gak kalau degup didada ini semakin tak tentu iramanya. Namun aku bisa apa?

Kasarnya sih aku yang selalu aktif menunjukkan rasa kalau aku suka kamu. Haha, tapi kamu gak pernah peka. Itulah kenyataan pahit yang aku telan berulang-ulang. Menjadikannya alasan kuat mengapa aku memendam rasa dan mencintaimu dalam diam. Bukan, bukan aku tak berguru pada pengalaman. Tapi karena aku terlalu gengsi untuk lebih dulu mengungkapkan rasa yang tertahan. Bukan, bukan aku takut pada sebuah penolakan. Tapi karena aku sudah tau dari awal bagaimana jawabannya. Terlihat bahagia dipermukaanya namun nyatanya didalam menahan luka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[REVIEW] POND'S White Beauty Day and Night Cream

[REVIEW] Citra Sakura UV Powder Cream | Home Tester

[REVIEW] POND'S White Beauty Instabright Tone Up Milk Cream