Adakah Itu Rahasia Cinta? (1)

Source : Pinterest

Pernah disatu waktu aku begitu meremehkan pria ini. Ya, pria yang kini dengannya aku telah terikat tersimpul mati. Ah, mengingat masa itu sungguh "keterlaluan" wanita bersikap seperti itu. Ya, kira-kira sekitar sembilan tahun yang lalu lah.  Sungguh tak ku sangka jika pria yang dulunya sangat menyebalkan ini akan mendampingiku seumur hidup. Dan kini sejak janji suci itu ia ikrarkan, dengan doa dan harapku, aku akan selalu bersama susah dan senangnya, sakit dan sehatnya sampai ajal menjemput. Dan semoga ia juga memiliki doa yang sama untukku.
*******

Ketika menginjak usia yang ke-20 sikap "keterlaluan" itu perlahan dan pasti aku hilangkan. Alasannya tak muluk-muluk. Aku ingin berubah menjadi pribadi dewasa yang lebih baik yang masih bisa manja, galau, bahagia, ataupun sedih sesuai porsinya. Waktu berlalu begitu cepat. Aku telah lulus dari lika-liku perkuliahan, dan mulai meniti karir yang mendukung title-ku. Mengajar. Sayangnya aku meleset dari jenjang yang telah ku perkirakan, ya meskipun tak jauh dari dunia pendidikan juga. Bukanlah suatu hal yang memalukan sebenarnya, karena bagiku mengajar adalah passion-ku. Dimanapun itu, pada jenjang apapun itu, aku akan berusaha mempersembahkan jasaku, seluruh pengetahuanku dan dengan ikhlas mendidik generasi pelurus bangsa ini. Awalnya cuma iseng sih buka les. Dan akhirnya aku memberanikan diri melamar untuk mengajar disekolah dasar di tanah rantau ini. Tidak mudah rupanya. Tapi puji syukur, aku diterima.

Kini sudah cukup lama aku bertahan mengajar disini. Meskipun harus berjauhan dengan orang tua ku lagi. Awalnya aku berpikiran terlalu pendek, "Ah, pulang kampung sajalah. Kerja disana", tapi ku urungkan niat dangkalku itu. Mengingat dengan lelah orang tua telah membiayai pendidikanku tinggi-tinggi, setidaknya ada sedikit perubahan signifikan yang membanggakan dariku untuknya. Kesuksesan. Pernah juga terbesit dipikiranku, ingin lanjut menempah ilmu atau cari jodoh? "Ah jodoh, jauh sekali dari rencana yang telah ku susun", batinku. Pun demikian dalam urusan yang satu ini selalu sukses menekan dan membuatku sakit kepala. Hahaa... Toh, aku juga manusia biasa yang pasti butuh pendamping untuk hidup menua bersama. Untung saja orang tua ku belum terlihat tanda-tanda akan mengajukan pertanyaan tersebut. Meskipun diseparuh pertahananku sudah hampir keropos berkat lelucon klasik umur 25an, "kapan nyusul" dan bla bla bla. Senyumin sambil elus dada dan ngomong, "Sabaaar, nanti ada saatnya". Hehee. Di perantauan ini, aku tinggal berdua saja dengan Mbak Ipit, saudara jauh belah ibu. Status mbak Ipit pun selangkah lebih maju dariku, sebab cincin sudah melingkar di jari manis kirinya. Well, jangan tanya aku kapan.

Singkat saja, waktu itu adalah "musim" penerimaan siswa baru. Sudah tentu, para orang tua sibuk mendaftarkan anaknya "disini". Ya sekolah ini sedang berusaha bangkit sedikit demi sedikit untuk jadi yang "favorit", semoga. Hm... Berhubung aku sedang tidak ada kegiatan, aku bersedia menemani Mbak Asih, lebih tepatnya jaga Ahmad -anak mbak Asih- ketika Mbak Asih lagi sibuk berkutat dengan berkas-berkas pendaftaran. By the way, Mbak Asih adalah guru IPS kesayangan murid kelas IV dan V, terlebih Vc karena beliau adalah walas-nya. Usia kami terpaut empat tahun dan dia sudah punya dua jagoan. Yang paling besar, Muhammad Yudhitama berusia 8th dan sang adik Ahmad Yusuf 4th. Dari sekian banyak aku melihat orang tua dari calon murid-muridku berdatangan dengan maksud menyekolahkan anaknya. Ada satu pria yang membuat aku terperanjat seketika. Seperti tak asing bagiku raut wajahnya. Aku membatin, "kayak pernah liat, tapi dimana yaa?", lama aku memerhati dengan style angguk-angguk penuh ragu lalu membatin kembali, "itu anaknya ya? Kapan nikahnya"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[REVIEW] POND'S White Beauty Day and Night Cream

[REVIEW] Citra Sakura UV Powder Cream | Home Tester

[REVIEW] POND'S White Beauty Instabright Tone Up Milk Cream