Dua Mawar Layu



- Semoga Aku Tak Lebih Lama Lagi Menunggumu -

     Hari itu aku agak malas memenuhi permintaan Eric untuk mengajaknya pergi ke salah satu tempat yang bisa dikatakan memberi sedikit ide dalam tiap tulisanku. Tak biasanya Eric ingin tahu lebih tentangku. Ah, sungguh terbawa perasaan sekali aku ini. Haha. Apa terjadi sesuatu padanya? Ah, terserahlah.
***
     
     "Terminal?" tanya nya. "Hm..." aku menanggapinya dengan kemalasanku. "Kenapa?" ia kembali bertanya. "Entahlah" lagi-lagi jawaban singkat yang aku berikan. "Bicaralah" ucapnya. Aku menghela napas, dan tak sadar berucap pelan pada diriku sendiri "Aku bosan ric, terus seperti ini, bosan nunggu". "Nunggu siapa Ann?" ia kembali bersuara. Aku diam tak mau meresponnya. Dia juga diam. Kebisuan menghinggap diantara kami, sampai dia berkata "Aku juga". "Juga apa?" tanyaku. Ia tak menjawabku.

     Sementara aku kembali memperhatikan seorang wanita yang habis menangis duduk tak jauh dari kami. Matanya sembab wajahnya hampir pucat, wanita itu membawa koper. Aku rasa wanita itu akan pergi jauh. Aku mulai berandai-andai bagaimana jika aku adalah wanita itu. Apakah akan ada pria yang mencegahku pergi untuk tetap tinggal bersamanya? Seperti kembali untuk memperbaiki kesalahan sebelumnya dan hidup bahagia? Ataukah tak ada seorangpun yang mencegahku pergi karena memang aku tak ada apa-apanya? Ya Tuhan pikiranku mulai kemana-mana.

     Wanita itu tersenyum padaku seolah berkata ia tak apa-apa. Lalu ia beranjak pergi, memasang gerak tegar didalam kerapuhannya. "Hebat" ucapku lirih. "Siapa?" tanya Eric yang sedari tadi rupanya memperhatikanku. "Wanita itu. Ia hebat" jawabku. "Kau juga" ucapnya. "Maksudmu?" tanyaku. "Aku tau kenapa kau memilih terminal sebagai salah satu sumber ide dari tulisan-tulisan galaumu. Kau ingin berlagak seperti menunggu seseorang Ann. Dan ya, seperti kataku kau hebat. Kau memang terlihat profesional dalam hal ini" jawab Eric padaku.

     Aku hanya memperlihatkan senyum simpulku, mengisyaratkan jawabannya adalah benar. Tetapi dalam hati aku berucap, "Dasar bodoh! Siapa lagi yang ku tunggu selama ini kalau bukan kau Eric. Aku menunggumu lebih dari 6 tahun, terhitung pada semester kedua masa perkuliahan".

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[REVIEW] POND'S White Beauty Day and Night Cream

[REVIEW] Citra Sakura UV Powder Cream | Home Tester

[REVIEW] POND'S White Beauty Instabright Tone Up Milk Cream